Sensasi Ramadan di Masjid Raya Sumbar, Keindahan Desain Lokal dengan Prestasi Global

Padang, chronosradio.com – Suara adzan Magrib baru berkumandang di masjid Raya, Sumatera Barat kota Padang. Seorang ibu berusia 70 tahun tampak sigap menunaikan salah satu shalat lima waktu ini. Mengenakan mukena panjang putih berbordir, si ibu yang menunaikan shalat di masjid ini ditemani dua orang cucunya berusia 17 dan 20 tahun.

“Syukur alhamdulillah saya bisa menunaikan shalat di sini yang memang sudah lama saya impikan,” kata si ibu dengan suara yang masih tertata rapi meski usianya sudah sepuh.

Ibu Athirah Firman ini mengaku berasal dari kota Bukit Tinggi yang berjarak 91 kilometer dari Kota Padang. Dari Bukit Tinggi ke Padang biasa ditempuh perjalanan dengan waktu dua hingga tiga jam.

Diceritakan Athirah memang sudah lama dirinya ingin mewujudkan cita-cita menunaikan shalat lima waktu di masjid ini. Sejak pandemi berjalan dua tahun, Athirah sudah menyimpan rindu mendalam bisa berada di rumah Allah ini. “Saya bersyukur sekali bisa kesampaian ada di sini. Dua cucu saya kebetulan kuliah online jadi bisa menemani dan mewujudkan keinginan neneknya,” kata Athirah yang berangkat dari kotanya mulai jelang Ashar, sekitar jam tiga sore dan sampai di kota Padang tepat adzan Magrib.

Athirah mengakui sukacita tak terkira bisa tercapai cita-citanya. “Saya selalu merindukan bisa shalat di masjid kebanggan kota Padang. Masjid yang sarat dengan desain lokal dan sering meraih penghargaan global atau internasional. Pas Ramadan saya juga ingin bisa shalat Tarawih di sini,” kata wanita berhijab ini dengan nada bahagia.

Selasa malam itu, Masjid Raya Sumbar memang dipenuhi masyarakat yang menunaikan shalat Magrib dan Isya. Masjid yang disebut-sebut ada andil atau sentuhan dari Gubernur Jawa Ridwan Kamil yang ikut berpartisipasi dalam hal mendesain masjid ini.

See also  Tembok Baluwarti Penjaga Keraton Ngayogyakarta

Dua pekan menjelang Ramadan, masjid ini mulai ramai didatangi pengunjung. Antuasiasme warga menunaikan Rukun Islam yang kedua ini semakin tampak bersukacita memenuhi rumah Allah ini. Maklum, setelah hampir situasi dan kondisi pandemi Covid-19 yang berdampak pada kegiatan menunaikan shalat ke masjid, karena imbauan menjaga jarak dan tetap berada di rumah, nyaris kegiatan beribadah di masjid inipun sempat sepi pengunjung.
Pada saat Ramadan, masjid yang terletak di Jalan Khatib Sulaiman di kota Padang termasuk salah satu masjid favorit bagai warga Padang dan sekitarnya untuk menunaikan shalat Tarawih. Berdasarkan data di masjid ini, pada bulan Ramadan, setiap malam lebih dari dua ribu jemaah bertarawih di sini. Kemudian saat berbuka puasa, di masjid ini juga menyediakan aneka makanan dan minuman seperti korma, gorengan, minuman teh dan lain-lain.

Masjid Raya Sumatera Barat merupakan kebanggaan masyarakat kota Padang, tak hanya dimanjakan area beribadah yang luas dan lapang, tetapi juga keindahan pada desain interiornya.

Konstruksi masjid ini terdiri dari tiga lantai yang diperkirakan dapat menampung sekitar 20 ribu jemaah, yakni sekitar 15 ribu jemaah di lantai dasar dan selebihnya di lantai dasar dan selebihnya di lanati dua dan tiga.

Masjid ini dibangun di lahan seluas sekitar 40 ribu meter persegi dengan luas bangunan utama kurang dari setengah luas lahan tersebut, yakni sekitar 18 ribu meter persegi sehingga menyisakan halaman yang luas. Di halaman tersebut dijadikan sebagai tempat parkir, taman dan tempat evakuasi atau shelter bila terjadi tsunami.

Ruang utama yang dipergunakan sebagai ruang shalat terletak di lantai atas, memiliki teras yang melanda ke jalan. Denah masjid berbentuk persegi yang melancip di empat penjurunya, mengingatkan bentuk bentangan kain ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berbagi kehormatan memindahkan batu Hajar Aswad. Bentuk sudut lancip sekaligus mewakili atap bergonjong pada rumah adat di Minangkabau. Kekhasan yang paling mencolok dari Masjid Raya Sumatera Barat ini tidak adanya kubah, dan sebagai gantinya, atap masjid didesain berupa atap segi empat dengan tiap sudut menjulang ke langit seperti Rumah Gadang.

See also  Masjid Darussalam Sukoharjo, Saksi Perjuangan Pangeran Diponegoro

Memang masjid ini memasukan unsur budaya khas Minang yang ditunjukkan dari atap dan corak ukiran Minangkabau pada dinding-dindingnya. Semua pengunjung yang datang ke sini begitu menikmati karena semilir angin yang masuk dari celah atap dan dinding masjid yang didesain terbuka. Bahkan, tak hanya penduduk atau masyarakat setempat bahkan warga dari luar Padang dan luar provinsi Sumatera Barat yang menjadikan masjid ini sebagai ikon wisata religi.

Kemudian masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Mahligai Minang sebagai salah satu masjid terbesar di Indonesia yang terletak di Kecamatan Padang Utara, Kota Padang Provinsi Sumatera Barat. Masjid ini pembangunannya dimulai dengan peletakan batu pertama pada 21 Desember 2007 oleh Gubernur Sumatera Barat saat itu, Gumawan Fauzi Dan pengerjaan masjid ini dilakukan dalam beberapa tahap yang terkendala karena hanya mengandalkan dana APBD Sumatera Barat.

Dalam hal prestasi, masjid ini memenangkan penghargaan Abdullatif Al Fozan Award atau AFAMA beberapa waktu lalu. Penghargaan ini merupakan ajang untuk menampilkan karya dan desain masjid dari negara-negara dengan penduduk Muslim di dunia. Prestasi membanggakan yang diraih Masjid Raya Sumatera Barat adalah mendapatkan penghargaan sebagai salah satu dari 7 masjid dengan arsitektur terbaik di dunia dan bersaing dengan 201 masjid di 43 negara di dunia.

Adapun sosok penting dan berpengaruh dibalik masjid ini adalah Rizal Muslimin, principal architect PT Urbane Indonesia, di mana Riswan Kamil, Gubernur Jawa Barat merupakan salah satu pendirinya. Urbane Indonesia merupakan kantor arsitektur yang dibuat oleh Kang Emil, saapan Ridwan Kamil sebelum berkecimpung ke dunia politik. [KemenkoMarves]

Bagikan:

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.